Minggu, 07 Februari 2021

Jangan Hanya Jadi Penikmat

 


Oleh : Rohimul Hadi

“KRINGGG.....” Bel sekolah berbunyi panjang tanda jam istirahat. Thira sudah tidak sabar keluar dari kelas. Tidak ada yang menarik semua yang diajarkan oleh guru. Hanya ada kantuk di dalam kelas. Untuk mengatasi kantuk itu, Thira sering mencuri waktu membaca buku berupa komik terbaru. Bisa dikatakan, waktu membaca komik lebih banyak daripada memperhatikan guru menjelaskan. Sudah banyak sekali teguran akibat perbuatannya. Bahkan tidak jarang ia terkena lempar penghapus, juga beberapa komiknya disita oleh guru yang sedang mengajar. Jangan tanya tentang nilai. Hampir semua nilainya buruk, kecuali mata pelajaran sejarah. Orang tuanya pun beberapa kali dipanggil oleh BK atas tingkah laku anak semata wayangnya.

Thira seorang anak dari saudagar kaya di kota. Anak tunggal. Ibunya meninggal ketika melahirkannya. Ayahnya mengasuh sendirian dari kecil hingga dewasa. Ayahnya sangat mandiri berkebalikan dengan Thira. Karena Thira anak satu-satunya, semua keinginannya selalu dipenuhi oleh ayahnya. Itulah yang membuat Thira susah diatur, ia anak manja. Anak yang sudah nyaman dengan kehidupannya.

“Kemarin aku lihat di instagram komikus favoritku, hari ini komik terbarunya sudah bisa dibeli di toko buku seluruh Indonesia. Kamu mau ikut? Aku ingin ke toko buku dan membelinya” Thira mengajak Danu dengan antusias. Jikalau Danu tidak mau ikut pun, Thira akan pergi sendiri. Dia sudah biasa pergi kemana-mana sendirian.

“Boleh... boleh... Tapi cuma nemenin ke toko buku, ya! Ibarat nanti mampir-mampir ke tempat lain, aku tidak ikut. Nanti sore aku ada les privat. Takut-takut nanti aku dimarahi mama” Danu mengiyakan ajakan Thira. Sudah kebiasaan Thira pergi ke Toko buku kemudian mampir ke cafe, langsung membaca komik yang baru dibelinya.

Sudah berapa banyak komik yang dimiliki Thira. Masih kelas dua SMA sudah memiliki koleksi komik yang sangat banyak. Tidak hanya koleksi dari komikus dalam negeri, komik-komik dari luar negeri pun ia miliki. Tidak hanya komik, tapi juga novel-novel juga sangat banyak. Ayahnya membuatkan ruangan khusus untuk menyimpan koleksi buku-bukunya. Ruangan itu dibuat di samping kamarnya. Bekas kamar ibunya yang sudah tidak terpakai. Lemari-lemari buku mengelilingi tembok kamar itu. Di pintu kamar itu tertulis Perpustakaan Thira. Pintu kamar itu terbuat dari kaca, sengaja diganti agar koleksi komiknya terlihat dari luar. Begitu juga temboknya.

“KRIIINGGG... KRIIINGGG... KRIIINGGG...” Kali ini bel sekolah berbunyi tiga kali tanda jam pelajaran terakhir selesai. Waktu untuk pulang. Waktu untuk bersenang-senang di surganya buku.

Mereka berdua keluar dari gerbang sekolah. Pergi ke tempat pemberhentian bis umum. Banyak orang disana. Mayoritas anak-anak dari sekolah tempat Thira menuntut ilmu. Karena ini jam pulang sekolah. Walaupun anak orang kaya, Thira tidak di perkenankan mengendarai kendaraan pribadi.  Jikalau Thira minta dibelikan mobil pun pasti dibelikan oleh ayahnya. Beberapa waktu sebelumnya, Thira pernah meminta dibelikan kendaraan untuk mobilitas pulang-pergi ke sekolah. Ayahnya berjanji akan membelikannya jika usia Thira sudah boleh secara hukum untuk mengendarai kendaraan pribadi. Ayahnya tidak bisa menjemput. Dia orang sibuk. Lagi pula jarak antara sekolah dan rumah hanya memakan 30 menit perjalanan dengan bis kota.

Bis yang akan dinaiki datang. Lima belas menit sekali bis datang untuk menjemput penumpang. Yang tidak kebagian harus menunggu lebih lama di halte. Toko buku dan Rumah Thira sejalan. Begitu juga dengan Rumah Danu.

Kondektur bis mengkondisikan penumpang yang turun untuk keluar terlebih dahulu. Anak-anak berseragam yang siap untuk naik ke bis harus bersabar, memberi ruang untuk orang turun dan keluar dari bis. Suasana halte ramai mengular sampai keluar halte yang berisi anak-anak berseragam sekolah. Untung saja halte berada di bawah pepohonan rindang. Jadi tidak masalah untuk menunggu beberapa waktu.

Thira dan anak berseragam sekolah masuk setelah kondektur mempersilahkan. Perempuan berseragam didahulukan untuk duduk, pria berseragam harus rela berdiri. Lima belas menit kemudian sampailah di toko buku terbesar yang ada di kota itu. Sisanya baru bisa duduk. Thira lebih suka berdiri dari pada duduk di dalam bis.

Thira turun dengan tersenyum “hari ini akan ada koleksi baru di perpustakaanku.”

Mereka berdua masuk. Komik yang Thira maksud terpajang di rak buku paling depan. Disusun menjulang tinggi membuat siapa saja yang kesana tertarik untuk melihatnya. Thira mengambil salah satu komik dari sana. Seperti kebiasaan, Thira tidak langsung pulang setelah mendapatkan apa yang ia ingin beli. Ia berkeliling terlebih dahulu, mengelilingi seluruh rak-rak buku yang ada. Mulai dari rak komik, novel, politik sampai ke rak buku-buku memasak. Semuanya dilewati tanpa terkecuali. Karena seringnya ia ke toko buku itu, ia sampai hafal mana saja buku yang sudah habis dan mana saja buku yang baru saja ditaruh di rak. Danu yang menemani sampai jenuh. Hampir satu jam mereka berdua berkeliling sebelum akhirnya Thira menuju kasir untuk membayar satu buku yang ada di tangannnya.

Mereka berdua kembali ke halte dimana mereka turun tadi. Kali ini tidak ada anak berseragam. Waktu pulang sekolah sudah selesai. Lima belas menit kemudian Thira sampai di halte dekat rumahnya. Danu turun dihalte setelahnya.

Thira langsung masuk ke perpustakaannya. Menanggalkan tas dan seragamnya di sofa. Ia tiduran sambil membuka plastik pembungkus buku. Beberapa saat kemudian ia terlelap dalam bacaannya. Waktu berlalu dengan cepat. Terlelap dalam cerita satu jam di dunia nyata seperti satu menit dalam cerita. Thira sangat menikmati alur cerita dalam komik yang baru dibelinya.

Pintu terbuka. Seorang lelaki datang dari balik pintu kaca. Ayah Thira datang dengan raut muka yang tidak enak. Ia duduk di sebelah Thira yang tiduran.

“Thira, Ambilkan Ayah air putih. Ayah Haus” lelaki terbilang hampir kepala empat menepuk bahu Thira.

“Ayah kan sudah punya kaki, punya tangan. Bisa jalan sendiri, bisa ambil sendiri. Thira masih sibuk baca komik, Yah. Lagi bagian asik-asiknya ini” Thira masih tiduran dan sibuk dengan komiknya.

“THIRA.........!!!” Panggil Ayahnya dengan nada panjang. Jika sudah begitu, Thira tidak akan lagi melawan. Walau sering dimanja oleh ayahnya. Thira masih ada rasa takut kepada ayahnya jika sudah memanggil dengan panggilan seperti itu. Pernah dahulu ia kena tampar dan beberapa buku koleksinya dirobek akibat kelakuan Thira yang sudah melampaui batas. Ayahnya sangat sayang pada Thira, dan juga sangat keras jika sudah melampaui batas.

Thira beranjak dari tidurannya. Meletakkan komiknya di sofa.

“Sudah Ayah bilang berulang kali. Tas sama baju, selepas sekolah ditaruh yang rapi. Digantung, jangan digeletakkan begitu” Ayahnya bilang sambil merapikan baju dan tasnya.

“Ini, Yah” Thira menyodorkan segelas air putih yang diminta.

“Guru BK menelpon Ayah lagi tadi siang. Masalah kamu selalu membaca buku lain dan tidak memperhatikan guru yang menjelaskan. Ujian kenaikan kelas akan datang minggu depan. Jika kamu seperti ini terus, kamu tidak akan naik kelas, Thira.”

“Ya bagaimana lagi, guru-guru di sekolah tidak ada yang menarik dalam menjelaskan. Hanya membuat pusing saja. Daripada aku tidur di kelas, mending aku baca komik”

“Mulai besok sampai ujian selesai, perpustakaanmu Ayah kunci. Tanpa tapi-tapian. Ayah ingin kamu belajar, tidak hanya baca komik saja. Sampai kamu tidak naik kelas, semua isi perpustakaan yang kamu punya ayah berikan ke orang lain. Dan ayah tidak akan mengijinkan kamu untuk membeli komik baru ataupun buku baru. Tidak akan pernah” Ayah Thira menegaskan sambil menunjuk seluruh isi ruangan.

“Tapi yah...”

“Mulai besok kamu harus ikut les privat. Nanti ayah carikan guru lesnya. Tidak ada baca komik sampai ujian selesai” tegas Ayah Thira. Gelas berisi air putih itu belum habis. Diletakkannya di meja sebelah sofa.

Keesokan harinya sampai ujian selesai adalah hari yang berat. Tidak ada komik untuk dibaca. Internet di rumahnya pun dimatikan, agar ia tidak mencuri-curi waktu untuk membacanya dari web. Hari-harinya berjalan dengan lambat dibanding berhadapan dengan komik. Berhadapan dengan komik berjam-jam berasa lima menit. Berhadapan dengan buku pelajaran. Lima menit serasa sudah satu jam. Tiap sore dan malamnya guru privat yang dipanggil oleh ayahnya datang terus tanpa henti. Percuma saja, walaupun pertemuan les privatnya sangat intens, tidak banyak yang ia dapat. Walaupun begitu, Thira masih bersyukur bisa mengikuti pelajaran sekolah. Guru-guru privatnya mau dengan sabar mengajari satu persatu materi.

Hari ujian datang, karena memang persiapan ujiannya hanya satu minggu. Tidak banyak soal-soal yang dapat Thira kerjakan dengan mudah. Dengan cara Thira menjawab soal, ia optimis akan naik kelas. Walaupun tidak dengan nilai yang bagus. Cukup lah jika hanya untuk naik kelas. Khusus untuk mata pelajaran sejarah, tidak ada kendala berarti dalam mengerjakannya. Ia selalu mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Hanya itu yang dapat ia banggakan. Hanya pelajaran Sejarahlah yang dapat masuk ke dalam pikirannya. Thira senang mendengarkan cerita sejarah. Berbeda dengan teman-temannya.

Ujian telah usai. Thira menagih janji kepada Ayahnya. “Ayah, ujian kan sudah selesai. Sekarang aku minta kunci perpustakaan. Aku sudah muak dengan pelajaran sekolah.”

“Nanti Ayah kasih kuncinya, tapi sebelumnya ikut Ayah dulu.” Ayah Thira memasukkan kunci perpustakaannya ke dalam saku celananya.

“Kemana, Yah? Ayah mau belikan aku komik baru?” Thira menduga. Mimik wajahnya berubah dari kecut menjadi ceria.

“Pokoknya ikut Ayah saja. Tidak usah banyak tanya. Ambilkan kunci mobil Ayah di meja.” Thira semangat sekali hari itu. Pasti ayahnya akan membelikan komik baru sebagai hadiah karena telah bersusah payah untuk mempersiapkan ujian.

Mobil melaju kencang. Menembus macetnya jalanan kota. Bukannya berbelok ke toko buku seperti yang dikira Thira sebelumnya. Mobil itu melesat terus maju melewati toko buku terbesar di kota.

“Yah... mau kemana kita? Katanya mau beli komik baru? Harusnya kita belok kiri ke toko buku” Thira menunjuk jalan masuk ke arah toko buku.

“Tidak usah banyak tanya. Nanti ayah tunjukkan yang lebih hebat lagi dari sebuah toko buku” Ayah Thira menancap gas mobil ketika lampu hijau menyala di perempatan toko buku.

Sepuluh menit kemudian mobil mulai melambat. Mobil berhenti di tempat tukang kayu. Seminggu yang lalu Ayah Thira memesan sebuah lemari kayu baru untuk ditaruh di perpustakaan Thira.

“Lihat, Ayah memesan lemari baru untuk buku-buku mu. Ayah lihat lemari yang ada di perpustakaan sudah penuh. Ayah membelikan lemari kayu baru untuk mengisi buku-buku mu nanti. Ingat perkataan ayah. BUKU-BUKUMU, bukan buku-buku orang lain. Ayah ingin kamu menulis buku-buku mu sendiri, tidak terbatas pada komik saja. Ayah ingin kamu tidak hanya menjadi penikmat saja, tapi juga sebagai penulis”

“Ayah, aku kan tidak bisa menggambar untuk membuat komik. Aku tidak bisa menulis untuk membuat karangan cerita. Bagaimana bisa aku menulis bukuku sendiri?”

“Ayah mengerti. Kamu pasti bisa, dan kamu akan bangga atas karya kamu sendiri” Ayah Thira meyakinkan.

“Dengan kamu suka dengan apa yang kamu baca, itu sudah menjadi jalan kamu untuk menjadi penulis. Ayah tidak peduli dengan nilai kamu di sekolah. Ayah tahu nilai di sekolah tidak menjadikan mu orang yang hebat. Tapi dengan menulis buku mu sendiri, kamu bisa menjadi orang yang hebat. Lihat saja betapa berpengaruhnya penulis komik yang kamu baca?”

Sore itu lemari diantar dengan mobil yang disediakan oleh tukang kayu. Lemari itu tepat ditaruh di depan pintu masuk perpustakaan. Thira hanya melihat-lihat lemari kayu. Terukir besar di bagian atas lemari “Tulisan Thira”. Sejak saat itu, Thira lebih sering melihat lemari kosong dan merenungi perkataan ayahnya dari pada membaca komik yang ada ditangannya.

Saran dari guru BK kepada Ayah Thira sukses membuat kehidupan Thira berubah. Yang pada awalnya ia hanya menikmati saja, kini ia menyeduh sendiri cerita demi cerita yang mengantarkan ia menjadi penulis terkemuka lima tahun kemudian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar