Oleh :
Rohimul Hadi
“KRINGGG.....”
Bel sekolah berbunyi panjang tanda jam istirahat. Thira sudah tidak sabar
keluar dari kelas. Tidak ada yang menarik semua yang diajarkan oleh guru. Hanya
ada kantuk di dalam kelas. Untuk mengatasi kantuk itu, Thira sering mencuri
waktu membaca buku berupa komik terbaru. Bisa dikatakan, waktu membaca komik
lebih banyak daripada memperhatikan guru menjelaskan. Sudah banyak sekali
teguran akibat perbuatannya. Bahkan tidak jarang ia terkena lempar penghapus,
juga beberapa komiknya disita oleh guru yang sedang mengajar. Jangan tanya
tentang nilai. Hampir semua nilainya buruk, kecuali mata pelajaran sejarah.
Orang tuanya pun beberapa kali dipanggil oleh BK atas tingkah laku anak semata
wayangnya.
Thira seorang
anak dari saudagar kaya di kota. Anak tunggal. Ibunya meninggal ketika
melahirkannya. Ayahnya mengasuh sendirian dari kecil hingga dewasa. Ayahnya
sangat mandiri berkebalikan dengan Thira. Karena Thira anak satu-satunya, semua
keinginannya selalu dipenuhi oleh ayahnya. Itulah yang membuat Thira susah
diatur, ia anak manja. Anak yang sudah nyaman dengan kehidupannya.
“Kemarin aku
lihat di instagram komikus favoritku, hari ini komik terbarunya sudah bisa
dibeli di toko buku seluruh Indonesia. Kamu mau ikut? Aku ingin ke toko buku
dan membelinya” Thira mengajak Danu dengan antusias. Jikalau Danu tidak mau
ikut pun, Thira akan pergi sendiri. Dia sudah biasa pergi kemana-mana
sendirian.
“Boleh...
boleh... Tapi cuma nemenin ke toko buku, ya! Ibarat nanti mampir-mampir ke
tempat lain, aku tidak ikut. Nanti sore aku ada les privat. Takut-takut nanti
aku dimarahi mama” Danu mengiyakan ajakan Thira. Sudah kebiasaan Thira pergi ke
Toko buku kemudian mampir ke cafe, langsung membaca komik yang baru dibelinya.
Sudah berapa
banyak komik yang dimiliki Thira. Masih kelas dua SMA sudah memiliki koleksi
komik yang sangat banyak. Tidak hanya koleksi dari komikus dalam negeri,
komik-komik dari luar negeri pun ia miliki. Tidak hanya komik, tapi juga
novel-novel juga sangat banyak. Ayahnya membuatkan ruangan khusus untuk
menyimpan koleksi buku-bukunya. Ruangan itu dibuat di samping kamarnya. Bekas
kamar ibunya yang sudah tidak terpakai. Lemari-lemari buku mengelilingi tembok
kamar itu. Di pintu kamar itu tertulis Perpustakaan Thira. Pintu kamar itu
terbuat dari kaca, sengaja diganti agar koleksi komiknya terlihat dari luar.
Begitu juga temboknya.
“KRIIINGGG...
KRIIINGGG... KRIIINGGG...” Kali ini bel sekolah berbunyi tiga kali tanda jam
pelajaran terakhir selesai. Waktu untuk pulang. Waktu untuk bersenang-senang di
surganya buku.
Mereka berdua
keluar dari gerbang sekolah. Pergi ke tempat pemberhentian bis umum. Banyak
orang disana. Mayoritas anak-anak dari sekolah tempat Thira menuntut ilmu.
Karena ini jam pulang sekolah. Walaupun anak orang kaya, Thira tidak di
perkenankan mengendarai kendaraan pribadi.
Jikalau Thira minta dibelikan mobil pun pasti dibelikan oleh ayahnya. Beberapa
waktu sebelumnya, Thira pernah meminta dibelikan kendaraan untuk mobilitas
pulang-pergi ke sekolah. Ayahnya berjanji akan membelikannya jika usia Thira
sudah boleh secara hukum untuk mengendarai kendaraan pribadi. Ayahnya tidak
bisa menjemput. Dia orang sibuk. Lagi pula jarak antara sekolah dan rumah hanya
memakan 30 menit perjalanan dengan bis kota.
Bis yang akan
dinaiki datang. Lima belas menit sekali bis datang untuk menjemput penumpang.
Yang tidak kebagian harus menunggu lebih lama di halte. Toko buku dan Rumah
Thira sejalan. Begitu juga dengan Rumah Danu.
Kondektur bis
mengkondisikan penumpang yang turun untuk keluar terlebih dahulu. Anak-anak
berseragam yang siap untuk naik ke bis harus bersabar, memberi ruang untuk
orang turun dan keluar dari bis. Suasana halte ramai mengular sampai keluar
halte yang berisi anak-anak berseragam sekolah. Untung saja halte berada di bawah
pepohonan rindang. Jadi tidak masalah untuk menunggu beberapa waktu.
Thira dan
anak berseragam sekolah masuk setelah kondektur mempersilahkan. Perempuan
berseragam didahulukan untuk duduk, pria berseragam harus rela berdiri. Lima
belas menit kemudian sampailah di toko buku terbesar yang ada di kota itu. Sisanya
baru bisa duduk. Thira lebih suka berdiri dari pada duduk di dalam bis.
Thira turun
dengan tersenyum “hari ini akan ada koleksi baru di perpustakaanku.”
Mereka berdua
masuk. Komik yang Thira maksud terpajang di rak buku paling depan. Disusun
menjulang tinggi membuat siapa saja yang kesana tertarik untuk melihatnya.
Thira mengambil salah satu komik dari sana. Seperti kebiasaan, Thira tidak
langsung pulang setelah mendapatkan apa yang ia ingin beli. Ia berkeliling
terlebih dahulu, mengelilingi seluruh rak-rak buku yang ada. Mulai dari rak
komik, novel, politik sampai ke rak buku-buku memasak. Semuanya dilewati tanpa
terkecuali. Karena seringnya ia ke toko buku itu, ia sampai hafal mana saja
buku yang sudah habis dan mana saja buku yang baru saja ditaruh di rak. Danu
yang menemani sampai jenuh. Hampir satu jam mereka berdua berkeliling sebelum
akhirnya Thira menuju kasir untuk membayar satu buku yang ada di tangannnya.
Mereka berdua
kembali ke halte dimana mereka turun tadi. Kali ini tidak ada anak berseragam.
Waktu pulang sekolah sudah selesai. Lima belas menit kemudian Thira sampai di
halte dekat rumahnya. Danu turun dihalte setelahnya.
Thira
langsung masuk ke perpustakaannya. Menanggalkan tas dan seragamnya di sofa. Ia
tiduran sambil membuka plastik pembungkus buku. Beberapa saat kemudian ia
terlelap dalam bacaannya. Waktu berlalu dengan cepat. Terlelap dalam cerita
satu jam di dunia nyata seperti satu menit dalam cerita. Thira sangat menikmati
alur cerita dalam komik yang baru dibelinya.
Pintu
terbuka. Seorang lelaki datang dari balik pintu kaca. Ayah Thira datang dengan
raut muka yang tidak enak. Ia duduk di sebelah Thira yang tiduran.
“Thira,
Ambilkan Ayah air putih. Ayah Haus” lelaki terbilang hampir kepala empat
menepuk bahu Thira.
“Ayah kan
sudah punya kaki, punya tangan. Bisa jalan sendiri, bisa ambil sendiri. Thira
masih sibuk baca komik, Yah. Lagi bagian asik-asiknya ini” Thira masih tiduran
dan sibuk dengan komiknya.
“THIRA.........!!!”
Panggil Ayahnya dengan nada panjang. Jika sudah begitu, Thira tidak akan lagi
melawan. Walau sering dimanja oleh ayahnya. Thira masih ada rasa takut kepada
ayahnya jika sudah memanggil dengan panggilan seperti itu. Pernah dahulu ia
kena tampar dan beberapa buku koleksinya dirobek akibat kelakuan Thira yang
sudah melampaui batas. Ayahnya sangat sayang pada Thira, dan juga sangat keras
jika sudah melampaui batas.
Thira
beranjak dari tidurannya. Meletakkan komiknya di sofa.
“Sudah Ayah
bilang berulang kali. Tas sama baju, selepas sekolah ditaruh yang rapi. Digantung,
jangan digeletakkan begitu” Ayahnya bilang sambil merapikan baju dan tasnya.
“Ini, Yah”
Thira menyodorkan segelas air putih yang diminta.
“Guru BK
menelpon Ayah lagi tadi siang. Masalah kamu selalu membaca buku lain dan tidak
memperhatikan guru yang menjelaskan. Ujian kenaikan kelas akan datang minggu
depan. Jika kamu seperti ini terus, kamu tidak akan naik kelas, Thira.”
“Ya bagaimana
lagi, guru-guru di sekolah tidak ada yang menarik dalam menjelaskan. Hanya
membuat pusing saja. Daripada aku tidur di kelas, mending aku baca komik”
“Mulai besok
sampai ujian selesai, perpustakaanmu Ayah kunci. Tanpa tapi-tapian. Ayah ingin
kamu belajar, tidak hanya baca komik saja. Sampai kamu tidak naik kelas, semua
isi perpustakaan yang kamu punya ayah berikan ke orang lain. Dan ayah tidak
akan mengijinkan kamu untuk membeli komik baru ataupun buku baru. Tidak akan
pernah” Ayah Thira menegaskan sambil menunjuk seluruh isi ruangan.
“Tapi yah...”
“Mulai besok
kamu harus ikut les privat. Nanti ayah carikan guru lesnya. Tidak ada baca
komik sampai ujian selesai” tegas Ayah Thira. Gelas berisi air putih itu belum
habis. Diletakkannya di meja sebelah sofa.
Keesokan
harinya sampai ujian selesai adalah hari yang berat. Tidak ada komik untuk
dibaca. Internet di rumahnya pun dimatikan, agar ia tidak mencuri-curi waktu
untuk membacanya dari web. Hari-harinya berjalan dengan lambat dibanding
berhadapan dengan komik. Berhadapan dengan komik berjam-jam berasa lima menit.
Berhadapan dengan buku pelajaran. Lima menit serasa sudah satu jam. Tiap sore
dan malamnya guru privat yang dipanggil oleh ayahnya datang terus tanpa henti.
Percuma saja, walaupun pertemuan les privatnya sangat intens, tidak banyak yang
ia dapat. Walaupun begitu, Thira masih bersyukur bisa mengikuti pelajaran
sekolah. Guru-guru privatnya mau dengan sabar mengajari satu persatu materi.
Hari ujian
datang, karena memang persiapan ujiannya hanya satu minggu. Tidak banyak
soal-soal yang dapat Thira kerjakan dengan mudah. Dengan cara Thira menjawab
soal, ia optimis akan naik kelas. Walaupun tidak dengan nilai yang bagus. Cukup
lah jika hanya untuk naik kelas. Khusus untuk mata pelajaran sejarah, tidak ada
kendala berarti dalam mengerjakannya. Ia selalu mendapatkan nilai tertinggi di
kelas. Hanya itu yang dapat ia banggakan. Hanya pelajaran Sejarahlah yang dapat
masuk ke dalam pikirannya. Thira senang mendengarkan cerita sejarah. Berbeda
dengan teman-temannya.
Ujian telah
usai. Thira menagih janji kepada Ayahnya. “Ayah, ujian kan sudah selesai.
Sekarang aku minta kunci perpustakaan. Aku sudah muak dengan pelajaran
sekolah.”
“Nanti Ayah
kasih kuncinya, tapi sebelumnya ikut Ayah dulu.” Ayah Thira memasukkan kunci
perpustakaannya ke dalam saku celananya.
“Kemana, Yah?
Ayah mau belikan aku komik baru?” Thira menduga. Mimik wajahnya berubah dari
kecut menjadi ceria.
“Pokoknya
ikut Ayah saja. Tidak usah banyak tanya. Ambilkan kunci mobil Ayah di meja.”
Thira semangat sekali hari itu. Pasti ayahnya akan membelikan komik baru sebagai
hadiah karena telah bersusah payah untuk mempersiapkan ujian.
Mobil melaju
kencang. Menembus macetnya jalanan kota. Bukannya berbelok ke toko buku seperti
yang dikira Thira sebelumnya. Mobil itu melesat terus maju melewati toko buku
terbesar di kota.
“Yah... mau
kemana kita? Katanya mau beli komik baru? Harusnya kita belok kiri ke toko buku”
Thira menunjuk jalan masuk ke arah toko buku.
“Tidak usah
banyak tanya. Nanti ayah tunjukkan yang lebih hebat lagi dari sebuah toko buku”
Ayah Thira menancap gas mobil ketika lampu hijau menyala di perempatan toko
buku.
Sepuluh menit
kemudian mobil mulai melambat. Mobil berhenti di tempat tukang kayu. Seminggu
yang lalu Ayah Thira memesan sebuah lemari kayu baru untuk ditaruh di
perpustakaan Thira.
“Lihat, Ayah
memesan lemari baru untuk buku-buku mu. Ayah lihat lemari yang ada di
perpustakaan sudah penuh. Ayah membelikan lemari kayu baru untuk mengisi
buku-buku mu nanti. Ingat perkataan ayah. BUKU-BUKUMU, bukan buku-buku orang
lain. Ayah ingin kamu menulis buku-buku mu sendiri, tidak terbatas pada komik
saja. Ayah ingin kamu tidak hanya menjadi penikmat saja, tapi juga sebagai
penulis”
“Ayah, aku
kan tidak bisa menggambar untuk membuat komik. Aku tidak bisa menulis untuk
membuat karangan cerita. Bagaimana bisa aku menulis bukuku sendiri?”
“Ayah
mengerti. Kamu pasti bisa, dan kamu akan bangga atas karya kamu sendiri” Ayah
Thira meyakinkan.
“Dengan kamu
suka dengan apa yang kamu baca, itu sudah menjadi jalan kamu untuk menjadi
penulis. Ayah tidak peduli dengan nilai kamu di sekolah. Ayah tahu nilai di
sekolah tidak menjadikan mu orang yang hebat. Tapi dengan menulis buku mu
sendiri, kamu bisa menjadi orang yang hebat. Lihat saja betapa berpengaruhnya
penulis komik yang kamu baca?”
Sore itu
lemari diantar dengan mobil yang disediakan oleh tukang kayu. Lemari itu tepat
ditaruh di depan pintu masuk perpustakaan. Thira hanya melihat-lihat lemari
kayu. Terukir besar di bagian atas lemari “Tulisan Thira”. Sejak saat itu,
Thira lebih sering melihat lemari kosong dan merenungi perkataan ayahnya dari
pada membaca komik yang ada ditangannya.
Saran dari
guru BK kepada Ayah Thira sukses membuat kehidupan Thira berubah. Yang pada
awalnya ia hanya menikmati saja, kini ia menyeduh sendiri cerita demi cerita
yang mengantarkan ia menjadi penulis terkemuka lima tahun kemudian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar