Selasa, 12 Januari 2021

Tidak Akan Sama Lagi Jika Orang Ini Tidak Ada

Cerpen oleh Rohimul Hadi

Tiap libur akhir tahun rumah akan selalu ramai. Semua sanak saudara dari berbagai daerah pulang. Hampir setiap tahun jumlah anggota keluarga bertambah. Semakin ramailah rumah tiap kali liburan akhir tahun. Rumah Darsa yang ada di pegunungan, walau akses jalannya susah. Harus menembus beberapa kilometer jalan aspal kecil jika malam tak ada lampu jalan, dilanjutkan jalanan tanah dan bebatauan jika ketika hujan datang akan sangat susah untuk dilewati. Itu bukan suatu halangan yang berat, tidak sebanding jika disandingkan bertemu dengan orang ini.

Liburan kali ini ada kabar gembira. Herman memiliki momongan baru. Seorang anak perempuan cantik yang lahir tujuh bulan lalu. Ini berarti ada tambahan lagi anggota keluarga. Akan butuh banyak ruangan lagi di rumah Darsa yang ada di pegunungan itu. Tidak boleh ramai jika anak perempuan mungil itu tidur. Pasti Ibu perempuan mungil itu akan memasang muka kecut jika ada yang ramai. Keramaian akan mengganggu waktu tidurnya. Seperti halnya tahun lalu kami harus menjaga mulut dan mengobrol di luar ketika Darto membawa anaknya yang baru lahir liburan. Alih-alih liburan menjadi sarana berkumpul dan bencengkrama, yang ada harus jaga diri. Tapi Darsa hanya tersenyum dan menggeleng-geleng akan kelakuan anak-anaknya itu. Dia memang seperti itu dan akan seperti itu.

“Sudah-sudah yang dewasa mengalah, ngobrolnya di luar saja. Nanti ganggu si putri tidur” dengan senyum lamar-lamatnya. Senyuman lembut khasnya. Seyumannya itu adalah alasan utama Aku dan saudara-saudara ku rela menempuh perjalanan jauh yang menguras tenaga dan pikiran. Rumah dan pulang tidak akan ada artinya jika tidak ada orang itu.

Biasanya kami membawa oleh-oleh yang bermacam-macam. Membawakan makanan yang tidak pernah ada di pelosok pegunungan, baju yang indah dan perkakas untuk memudahkan Darsa melakukan pekerjaan hariannya, seperti mesin cuci sebagai contohnya. Jawaban dari Darsa sama saja.

“Kalian tidak perlu membawakan ini semua. Dengan hadirnya kalian disini walaupun sebentar sudah cukup.” Ia selalu berkata seperti itu. Yang kami ketahui, makanan yang kami bawakan selalu diberikan ke tetangganya. Baju-bajunya masih rapi tersimpan di lemari, jarang ia gunakan. Ia lebih suka baju lusuh yang sudah termakan zaman itu. Tentang perkakas itu ia tidak pernah menggunakannya. Ia lebih suka mencuci bajunya sendiri di sungai daripada menggunakan mesin cuci itu.

Rumah Darsa memang tidak besar, tidak juga gedong seperti rumah-rumah di perkotaan. Yang ada hanya anyaman bilah bambu jika pagi datang mentari selalu mengintip dari sela-sela anyaman. Indah melihatnya. Suasana sejuk udara pegunungan. Gunung berdiri kokoh terlihat jelas di belakang rumah. Sejauh mata memandang dari halaman depan rumah hanyalah kebuh sayuran. Mulai dari kubis, kentang, cabai dan sayuran pegunungan lainnya.

Sehari sebelum melakukan perjalan. Aku mendapat kabar tidak menyenangkan dari Herman. Ia baru sampai di rumah Darsa tadi malam. Kabar itu membuat rencana perjalanan kami yang awalnya besok. Dengan tanpa membeli oleh-oleh seperti yang biasa dibawa. Hari itu, detik itu juga aku berangkat beserta istriku. Aku anak terakhir dan baru menikah. Belum memiliki buah hati, jadi tidak banyak yang perlu dipersiapkan. Butuh perjalanan delapan belas jam untuk sampai ke rumah Darsa. Waktu yang terlalu lama.

Tak pikir panjang. Mobil melaju dengan kecepatan paling tinggi. Melibas mobil-mobil lain layaknya seperti dalam sirkuit naskar, jalan lurus tanpa hambatan. Ketika keluar dari pintu tol dan melewati jalan kabupaten, kecepatan mobil tetap tidak diturunkan. Sesekali hampir menyerempet pengendara lain. Yang paling mengesalkan adalah ketika sampai di jalanan aspal kecil sebelum jalanan tanah itu. Aku harus sabar menguntit truk pengangkut sayuran yang berjalan tidak  kencang. Klakson mobil sudah dibunyikan beberapa kali tapi supir truk itu tidak menggubris. Alhasil, aku injak gas mobil dengan maksimal. Menyalip truk itu dengan sebagian badan mobil keluar dari jalan. Ban sebelah kanan hampir masuk ke selokan. Kami buru-buru. Satu detik sangat berharga. Keburu tidak sempat dan terlambat.

Setelah balada balapan liar itu, kami selamat sampai tujuan. Waktu berhasil terpotong tiga jam. Tak perlu menurunkan barang bawaan yang ada di mobil. Aku dan istriku langsung masuk ke rumah Darsa. Darsa sedang sakit. Ia sekarat.

Satu detik yang berharga. Satu detik yang tidak sia-sia. Aku berhasil memeluk Darsa. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di pelukanku. Darsa pergi, meninggalkan kami dan seribu alasan kami untuk selalu datang ke sini.

Darsa si pemilik senyum indah. Dasra si pemilik jiwa bijaksana. Darsa si orang tua itu. Perginya engkau dari sisi kami. Liburan ini dan tahun-tahun setelahnya akan hambar. Dialah Darsa orang tua kami. Alasan kami selalu pulang. Alasan kami selalu berkumpul.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar