Cerpen oleh Rohimul Hadi
Tiap libur akhir tahun rumah akan selalu ramai. Semua sanak saudara dari berbagai daerah pulang. Hampir setiap tahun jumlah anggota keluarga bertambah. Semakin ramailah rumah tiap kali liburan akhir tahun. Rumah Darsa yang ada di pegunungan, walau akses jalannya susah. Harus menembus beberapa kilometer jalan aspal kecil jika malam tak ada lampu jalan, dilanjutkan jalanan tanah dan bebatauan jika ketika hujan datang akan sangat susah untuk dilewati. Itu bukan suatu halangan yang berat, tidak sebanding jika disandingkan bertemu dengan orang ini.
Liburan kali ini ada kabar
gembira. Herman memiliki momongan baru. Seorang anak perempuan cantik yang
lahir tujuh bulan lalu. Ini berarti ada tambahan lagi anggota keluarga. Akan
butuh banyak ruangan lagi di rumah Darsa yang ada di pegunungan itu. Tidak
boleh ramai jika anak perempuan mungil itu tidur. Pasti Ibu perempuan mungil
itu akan memasang muka kecut jika ada yang ramai. Keramaian akan mengganggu
waktu tidurnya. Seperti halnya tahun lalu kami harus menjaga mulut dan
mengobrol di luar ketika Darto membawa anaknya yang baru lahir liburan.
Alih-alih liburan menjadi sarana berkumpul dan bencengkrama, yang ada harus
jaga diri. Tapi Darsa hanya tersenyum dan menggeleng-geleng akan kelakuan
anak-anaknya itu. Dia memang seperti itu dan akan seperti itu.
“Sudah-sudah yang dewasa mengalah,
ngobrolnya di luar saja. Nanti ganggu si putri tidur” dengan senyum
lamar-lamatnya. Senyuman lembut khasnya. Seyumannya itu adalah alasan utama Aku
dan saudara-saudara ku rela menempuh perjalanan jauh yang menguras tenaga dan
pikiran. Rumah dan pulang tidak akan ada artinya jika tidak ada orang itu.
Biasanya kami membawa oleh-oleh
yang bermacam-macam. Membawakan makanan yang tidak pernah ada di pelosok
pegunungan, baju yang indah dan perkakas untuk memudahkan Darsa melakukan
pekerjaan hariannya, seperti mesin cuci sebagai contohnya. Jawaban dari Darsa
sama saja.
“Kalian tidak perlu membawakan ini
semua. Dengan hadirnya kalian disini walaupun sebentar sudah cukup.” Ia selalu
berkata seperti itu. Yang kami ketahui, makanan yang kami bawakan selalu diberikan
ke tetangganya. Baju-bajunya masih rapi tersimpan di lemari, jarang ia gunakan.
Ia lebih suka baju lusuh yang sudah termakan zaman itu. Tentang perkakas itu ia
tidak pernah menggunakannya. Ia lebih suka mencuci bajunya sendiri di sungai
daripada menggunakan mesin cuci itu.
Rumah Darsa memang tidak besar,
tidak juga gedong seperti rumah-rumah di perkotaan. Yang ada hanya
anyaman bilah bambu jika pagi datang mentari selalu mengintip dari sela-sela
anyaman. Indah melihatnya. Suasana sejuk udara pegunungan. Gunung berdiri kokoh
terlihat jelas di belakang rumah. Sejauh mata memandang dari halaman depan
rumah hanyalah kebuh sayuran. Mulai dari kubis, kentang, cabai dan sayuran
pegunungan lainnya.
Sehari sebelum melakukan perjalan.
Aku mendapat kabar tidak menyenangkan dari Herman. Ia baru sampai di rumah
Darsa tadi malam. Kabar itu membuat rencana perjalanan kami yang awalnya besok.
Dengan tanpa membeli oleh-oleh seperti yang biasa dibawa. Hari itu, detik itu
juga aku berangkat beserta istriku. Aku anak terakhir dan baru menikah. Belum
memiliki buah hati, jadi tidak banyak yang perlu dipersiapkan. Butuh perjalanan
delapan belas jam untuk sampai ke rumah Darsa. Waktu yang terlalu lama.
Tak pikir panjang. Mobil melaju
dengan kecepatan paling tinggi. Melibas mobil-mobil lain layaknya seperti dalam
sirkuit naskar, jalan lurus tanpa hambatan. Ketika keluar dari pintu tol
dan melewati jalan kabupaten, kecepatan mobil tetap tidak diturunkan. Sesekali
hampir menyerempet pengendara lain. Yang paling mengesalkan adalah ketika
sampai di jalanan aspal kecil sebelum jalanan tanah itu. Aku harus sabar
menguntit truk pengangkut sayuran yang berjalan tidak kencang. Klakson mobil sudah dibunyikan
beberapa kali tapi supir truk itu tidak menggubris. Alhasil, aku injak gas mobil
dengan maksimal. Menyalip truk itu dengan sebagian badan mobil keluar dari
jalan. Ban sebelah kanan hampir masuk ke selokan. Kami buru-buru. Satu detik
sangat berharga. Keburu tidak sempat dan terlambat.
Setelah balada balapan liar itu,
kami selamat sampai tujuan. Waktu berhasil terpotong tiga jam. Tak perlu
menurunkan barang bawaan yang ada di mobil. Aku dan istriku langsung masuk ke
rumah Darsa. Darsa sedang sakit. Ia sekarat.
Satu detik yang berharga. Satu detik
yang tidak sia-sia. Aku berhasil memeluk Darsa. Ia menghembuskan nafas terakhirnya
di pelukanku. Darsa pergi, meninggalkan kami dan seribu alasan kami untuk selalu
datang ke sini.
Darsa si pemilik senyum indah.
Dasra si pemilik jiwa bijaksana. Darsa si orang tua itu. Perginya engkau dari
sisi kami. Liburan ini dan tahun-tahun setelahnya akan hambar. Dialah Darsa
orang tua kami. Alasan kami selalu pulang. Alasan kami selalu berkumpul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar